Thursday, March 15, 2012

The Power of Commitment

12 tahun yang lalu saya adalah seorang anggota gereja yang legalistic. Yang artinya kami diwajibkan untuk ke gereja 3x dalam seminggu. Dan kami tidaklah diperbolehkan untuk melakukan apapun pada hari sabtu. Istri saya bahkan tidak diperbolehkan bersenang-senang pada hari Minggu.

Istri saya tidak boleh mandi, belanja, nonton TV, bahkan membawa anjing kami keluar jalan-jalan pun tidak diperbolehkan. Ketika kami keluar dari gereja tersebut, kami membuat gereja baru dan merasa merdeka. Dan kami belajar tentang perpuluhan. Anda tentu tahu bahwa orang yang sangat agamawi biasanya sangatlah pelit.

Cerita saya tentang perpuluhan adalah ketika saya pertama kali memutuskan untuk memberikan perpuluhan, beberapa minggu sebelumnya saya dipecat. Dan saya memang mendapatkan pesangon yang cukup besar. Ada keinginan dalam diri saya untuk menentang perpuluhan namun akhirnya saya berkomitmen untuk tetap memberikan perpuluhan dari uang pesangon yang saya berikan.

Jujur, perpuluhan yang saya berikan cukup besar. Namun Tuhan berkomitmen dengan perpuluhan yang kita terima dan tahukah Anda bahwa apa yang saya dapat setelah saya rutin memberikan perpuluhan jauh lebih besar dari tabungan saya selama 14 tahun saya menabung? Jadi, Tuhan selalu berkomitmen kepada kita namun kita yang terkadang tidak melihat komitmen Tuhan kepada kita.

Benar bahwa selama kita hidup, kita akan selalu mendapatkan masalah. Tahukah Anda bahwa masalah membuat karakter kita bertumbuh, TETAPI tergantung kepada respon yang kita berikan terhadap masalah tersebut. Kalau kita memberikan respon yang benar, masalah akan menguatkan kita. Namun kalau kita memberikan respon yang salah, masalah akan membuat kita terdesak dan hancur.

Mari kita lihat cerita dan kisah dari Daud. Benar bahwa Daud dipilih dan diurapi menjadi raja Israel. Tetapi tidak serta merta setelah dia diurapi, dia langsung menjadi raja. Dia bahkan dikejar dan diburu oleh Raja Saul selama 14 tahun. Dan akhirnya dia memilih untuk tinggal bersama bangsa Filistin.

Ketika suatu hari bangsa Filistin memutuskan untuk berperang dengan bangsa Israel, Bangsa Filisitin memutuskan untuk memulangkan Daud pulang ke Israel karena bangsa Filistin takut Daud akan berkhianat berbalik menyerang bangsa Filistin di tengah peperangan.


Mari kita lihat di 1 Samuel 30: 1-6
30:1 Ketika Daud serta orang-orangnya sampai ke Ziklag pada hari yang ketiga, orang Amalek telah menyerbu Tanah Negeb dan Ziklag; Ziklag telah dikalahkan oleh mereka dan dibakar habis.
30:2 Perempuan-perempuan dan semua orang yang ada di sana, tua dan muda, telah ditawan mereka, dengan tidak membunuh seorangpun; mereka menggiring sekaliannya, kemudian meneruskan perjalanannya.
30:3 Ketika Daud dan orang-orangnya sampai ke kota itu, tampaklah kota itu terbakar habis, dan isteri mereka serta anak mereka yang laki-laki dan perempuan telah ditawan.
30:4 Lalu menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis.
30:5 Juga kedua isteri Daud ditawan, yakni Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu.
30:6 Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.

Dikatakan bahwa Daud dan pasukannya berjalan pulang ke kota asalnya (entah mereka berjalan kaki atau menggunakan keledai pada masa itu). Biasanya kalau kita sedang berjalan pulang ke rumah kita setelah bepergian jauh, kita membayangkan akan hal yang membuat kita senang. Mungkin kita akan leha-leha di sofa, mungkin kita akan mandi air hangat, mungkin kita akan meluangkan waktu bertemu pasangan atau anak kita.

Jadi dapat dipastikan bahwa Daud dan pasukannya pastilah letih setelah 3 hari mereka berjalan dan mereka mendapati kenyataan bahwa rumah mereka terbakar habis. Istri dan anak mereka hilang. Biasanya pahlawan / ksatria tidaklah mudah untuk menangis, mereka adalah pria-pria perkasa. Tetapi di ayat di atas dikatakan bahwa mereka menangis begitu kerasnya sehingga mereka tidak lagi memiliki tenaga untuk menangis. Bayangkan ketika Anda pulang setelah bepergian jauh dari rumah dan ketika Anda pulang, Anda mendapati rumah Anda, mobil Anda, iPad Anda, yang Anda miliki hilang. Anda tentu sedih, marah, dan bingung.

Setelah pasukan Daud bersedih, mereka menjadi marah. Mereka menyalahkan Daud karena kalau saja mereka tidak mengikuti Daud, tentu anak istri dan rumah mereka akan masih ada. Para pasukan Daud tidak lagi mencerminkan komitmen mereka untuk mengikuti Daud. Tetapi Daud tidak kehilangan komitmen kepada para pasukannya.

Mari kita telaah sebentar posisi Daud. Daud juga ikut berjalan selama 3 hari. Dia tentu lelah, capai, dan sedih mendapati kotanya terbakar. Dan sekarang dia berada dalam tekanan karena semua anak buahnya menyalahkan dia. Biasanya dalam kondisi lelah seperti ini, pikiran kita begitu keruhnya sehingga membuat kita tidak bisa mengambil keputusan yang jernih. Ini adalah masalah untuk Daud. Tahukah Anda bahwa masalah akan menguji hubungan Anda dengan Tuhan? Ketika Anda diejek oleh orang lain, apakah Anda akan mengejek balik? Ataukah Anda mendoakan orang tersebut? Dalam cerita ini, Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan. Mungkin bisa saja Daud meninggalkan pasukannya.

Seringkali kalau kita mendapatkan masalah, kita berdoa kepada Tuhan dengan harapan hati Tuhan akan berubah dan akan segera mengubah keadaan atau segera menunjukkan KekuatanNya untuk membantu kita. Tetapi dalam cerita ini, doa Daud tidaklah mengubah Tuhan, tetapi doanya mengubah diri Daud sendiri. Jadi doa yang kita panjatkan bukanlah untuk keuntungan Tuhan melainkan untuk keuntungan kita sendiri. Di bawah tekanan yang begitu berat dari pasukannya, Daud mendapatkan kekuatan hati.

--------------------------------

2 Tawarikh 16:9 berkata “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan."

Bersungguh hati disini artinya adalah orang tersebut dalam keadaan teduh hatinya. Jadi Tuhan mencari orang-orang yang walaupun memiliki masalah berat, hati mereka tetap teduh. Tidak panas. Kenapa? Karena disaat kita panik akan suatu masalah, biasanya kita bertindak seperti Musa yang terjebak di depan laut dan di belakang pasukan Israel mengejar mereka. Musa berdoa tetapi dia panik. Sehingga Tuhan pun menyergah dia dengan berkata “Kenapa engkau panik? Ambil langkahmu! Bertindaklah!”

Lucu sebenarnya bahwa saya sadar saya pernah pulang ke rumah saat mendapati masalah, saya mau doa kepada Tuhan, bahkan saya mencari ayat yang menguatkan saya. Jadi saya membuka Alkitab saya dan membuka ayatnya secara acak. Anda tahu ayat apa yang saya dapat? Ayatnya adalah “ Mengapa engkau mengerang seperti wanita yang kesakitan?”

Ketika hati Anda teduh, tidak panik atau berusaha tidak panik, maka otak Anda akan berhenti berpikir. Ketika hati berbicara, maka otak akan berhenti berbicara. Doa Daud membuat hati Daud menjadi teduh dan Daud dapat mengambil keputusan.

--------------------------------

1 Samuel 30:7-8
30:7 Lalu Daud memberi perintah kepada imam Abyatar bin Ahimelekh: "Bawalah efod itu kepadaku." Maka Abyatar membawa efod itu kepada Daud.
30:8 Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: "Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?" Dan Ia berfirman kepadanya: "Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan."

Seringkali saat kita memiliki masalah, kita berdoa untuk minta bantuan. Kita mencari jawaban akan apa yang harus kita lakukan. Dan sementara itu, kita hanya menunggu jawaban dari Tuhan. Seharusnya, walaupun kita bingung, kita tetap harus mengajukan kepada Tuhan apa saja pilihan-pilihan rencana yang akan kita lakukan ke depannya terlepas apakah planning kita benar atau salah. Jangan bawa tangan kosong ketika kita berdoa meminta jawaban untuk masalah kita. Dari cerita ini, walaupun Daud bingung, dia membawa pilihan kepada Tuhan. Apakah pilihan yang dia bawa? Dia menanyakan kepada Tuhan apakah dia dan pasukannya harus mengejar kawanan yang membakar kotanya atau tidak?

Terkadang jawaban Tuhan mungkin pendek. Hanya 1-2 kata. Mungkin hanya “pergi!”, “Ampuni!” , “Ke sana!”, dan lainnya. Dan kita bingung dan mendebat Tuhan.
“Tapi Tuhan, kalau saya pergi, nanti akan terjadi A, B, C, D”
“Tapi Tuhan, kalau saya ampuni, nanti dia akan A, B, C, D lagi”
“Tapi Tuhan, kalau saya ke sana, nanti …”
Amsal 16:31 "Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu."

--------------------------------

Dalam cerita ini, Tuhan tidak memberikan detail secara jelas bagaimana Daud akan meraih jawabannya. Rasanya, Tuhan seringkali berbuat ini kepada kita. Kenapa? Karena Dia ingin mengatahui apakah kita setia atau tidak kepada perintahNya.

Ketika Tuhan berbicara kepada Daud dan menyuruh Daud untuk mengejar kawanan itu, Daud segera meresponi jawaban Tuhan. Biasanya provisi yang Tuhan berikan kepada kita memiliki tenggang waktu. Seringkali kita berpikir bahwa ketika kita tidak mendapatkan jawaban, kita akan menyalahkan Tuhan karena Dia tidak menjawab kebingungan kita. Padahal, kita sendiri yang mungkin menutup pintu jawaban kita karena terlalu lama meresponi perintahNya.

Kita sama seperti bangsa Israel terkadang. Ingatkah Anda, bahwa ketika Tuhan menyuruh bangsa Israel untuk pergi ke tanah perjanjian, mereka tidak segera merespon perintah itu dan mereka berkilah “Tapi Tuhan, nanti kalau kami pergi, akan ada monster-monster, ada raja-raja, ada lembah yang curam” Dan ketika mereka memutuskan untuk pergi esok harinya, pintu itu sudah tertutup. Dan pintu jawaban itu baru terbuka kembali setelah 40 tahun lamanya mereka berputar-putar di gurun. Jadi, pastikan bahwa Anda memiliki beberapa pilihan akan apa yang Anda lakukan terhadap masalah Anda dan cepatlah dalam merespon petunjuk Tuhan.

--------------------------------

1 Samuel 30:11-15
30:11 Kemudian mereka menemui seorang Mesir di padang lalu membawanya kepada Daud. Mereka memberi dia roti, lalu makanlah ia, kemudian mereka memberi dia minum air,
30:12 dan memberikan kepadanya sepotong kue ara dan dua buah kue kismis, dan setelah dimakannya, ia segar kembali, sebab ia tidak makan dan minum selama tiga hari tiga malam.
30:13 Kemudian bertanyalah Daud kepadanya: "Budak siapakah engkau dan dari manakah engkau?" Jawabnya: "Aku ini seorang pemuda Mesir, budak kepunyaan seorang Amalek. Tuanku meninggalkan aku, karena tiga hari yang lalu aku jatuh sakit.
30:14 Kami telah menyerbu Tanah Negeb orang Kreti dan daerah Yehuda dan Tanah Negeb Kaleb, dan Ziklag telah kami bakar habis."
30:15 Daud bertanya kepadanya: "Dapatkah engkau menunjuk jalan kepadaku ke gerombolan itu?" Katanya: "Bersumpahlah kepadaku demi Allah, bahwa engkau tidak akan membunuh aku, dan tidak akan menyerahkan aku ke dalam tangan tuanku itu, maka aku akan menunjuk jalan kepadamu ke gerombolan itu."

Kita lihat tadi bahwa Tuhan menyuruh Daud untuk pergi mengejar kawanan itu dan tidak ada petunjuk dari Tuhan bahwa Daud akan menemukan seorang Mesir dalam perjalanan di tengah perjalanan mereka. Dan ternyata orang Mesir itu adalah jawaban Daud. Jadi, perhatikan. Terkadang jawaban kita muncul pada bentuk yang terlihat kecil / lemah / tidak kita sadari. Baptisan air terkesan lemah, hanya menceburkan diri ke air. Perjamuan Kudus terlihat kecil karena hanya membelah roti. Salib pun terlihat lemah karena hanya kayu. Tetapi di balik semua itu, ada kekuatan yang sangat dashyat. Seringkali kita menemukan jawaban yang kita cari, tetapi jawaban itu dalam keadaan sekarat.

--------------------------------

Jadi perhatikan, ketika Daud segera merespon petunjuk Tuhan, dia menemukan orang Mesir yang sedang sekarat karena tidak makan selama tiga hari tiga malam di tengah perjalanan mereka.

Bayangkan ini :
1. Bayangkan kalau Daud berdoa kepada Tuhan, Tuhan merespon, tetapi Daud memilih untuk tidur dulu sejenak, memulihkan diri terlebih dahulu baru esok paginya kembali melanjutkan perjalanan. Rasanya orang Mesir itu sudah keburu mati.
2. Bayangkan kalau Daud karena letih, capek, dan sedih. Memilih untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Baru esok harinya dia berdoa kepada Tuhan. Rasanya orang Mesir yang menjadi kunci jawaban itu sudah keburu mati juga.
3. Bayangkan kalau Daud karena marah, letih dan tidak tahan dituduh memilih untuk tidak berbuat apa-apa. Rasanya orang Mesir yang menjadi kunci jawaban itu sudah keburu mati juga.
Kalau Daud menunggu-nunggu untuk merespon, orang Mesir itu mungkin sudah mati dank arena orang Mesir itu mati, mungkin Daud akan kehilangan komitmennya kepada Tuhan karena dia berpikir Tuhan tidak menyediakan jawaban untuk dia.

--------------------------------

Perhatikan ini. Walaupun Daud dan pasukannya sudah capai, lelah, dan juga hampir mati karena letih, Daud masih memberikan makan kepada orang lain. Kenapa? Karena Daud tidak hanya menjalani komitmennya kepada Tuhan. Dia juga menjalani komitmennya kepada orang lain. Komitmennya kepada belas kasih terhadap orang lain. Terkadang kita terlalu fokus kepada masalah kita, sehingga kita tidak memberikan perhatian kepada orang lain, padahal bisa saja kita menemukan jawabannya di orang lain. Bukan di diri kita sendiri. Kita cenderung berkata “Nggak tau. Gw juga lagi ada masalah!” Jadi, rubah diri Anda, Love God but also Love People!

--------------------------------

Kalau kita tahu bahwa Tuhan berkomitmen kepada kita dan percaya dia akan menyediakanNya, maka kita akan menghemat doa kita menjadi lebih pendek. Kita tidak perlu berdoa bertele-tele, karena seperti yang dikatakan diatas bahwa fungsi doa adalah untuk keuntungan kita, bukan untuk keuntungan Tuhan. Percuma kita berdoa bertele-tele karena sebenarnya sebelum kita berdoa pun, Tuhan sudah menyiapkan jawabannya untuk kita. Anda tidak percaya? Lihatlah kisah Daud diatas. Sebelum Daud berdoa pun, orang Mesir itu sudah ada disana, terkapar sekarat menunggu untuk ditemukan oleh Daud. Sebelum Daud berdoa, Tuhan sudah menyediakan jalan keluar

--------------------------------

Apa hadiah untuk Daud ketika dia membawa masalahnya kepada Tuhan, memberikan pilihan, memegang komitmennya kepada Tuhan dan manusia? Jawabannya ada di 1 Samuel 30:18-19.
30:18 Daud melepaskan semua apa yang dirampas oleh orang Amalek itu; juga kedua isterinya dapat dilepaskan Daud.
30:19 Tidak ada yang hilang pada mereka, dari hal yang kecil sampai hal yang besar, sampai anak laki-laki dan anak perempuan, dan dari jarahan sampai segala sesuatu yang telah dirampas mereka; semuanya itu dibawa Daud kembali.

Ketika mereka mendapatkan semuanya kembali, ternyata kawanan itu tidak hanya merampok kota asal Daud saja, tetapi merampok beberapa kota lainnya dan tentu saja hasil rampasan yang diperoleh oleh Daud lebih besar daripada apa yang menjadi harta mereka. Daud mendapatkan iPad-iPad dari kota lain, BMW-BMW dari kota lainnya juga. Nah, karena kita mendapatkan hasil yang lebih besar daripada sebelumnya, hal ini juga menjadi ujian untuk kita. Akankah kita berubah menjadi lebih sombong? Atau kita tetap sama seperti yang sebelum mendapatkan hadiah itu?

Anda tentu tahu bahwa pasukan-pasukannya menyalahkan dia, menekan dia, tetapi Daud tetap memegang komitmennya kepada mereka dan membagi semua hasil itu kepada mereka. Padahal bisa saja Daud tidak memberikan mereka hasil rampasan kepada pasukan yang telah menyalahkan dia. Komitmen lain yang dipegang oleh Daud adalah kemurahan hati.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment